Saya adalah pelaku pena berasal dari sebuah kota budaya kecil Surakarta Jawa Tengah Indonesia. Tertarik pada sebuah sisi kehidupan dari peradaban ini.
Di samping itu, karena latar belakang pendidikan saya di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta, saya juga terlibat dalam kegiatan menerjemahkan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia dan sebaliknya.
Blog ini adalah salah satu wahana di mana saya menumpahkan segala gagasan dan ketertarikan saya kepada kehidupan ini.
Jika Anda tertarik untuk berinteraksi lebih jauh dengan saya, silakan terlibat dalam kehidupan saya. ( jasa terjemahan online ) di: 0271-5884647 a.n Agus Sulistyo


Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Desember 2012

Berenanglah di Sisi Perahuku



Seloka bimbang itu selalu terbawa pulang ...
Sepenanak nasi, namun tak mau berhenti, berkhalwat di keramaian hati
dan ... di antara retakan itu, kau menawarkan sebuah keinginan
“Kita dapat berlayar pada satu perahu ...”

(yang terbuang kuat bertandang...
gurauan tlah usai ... menjadi sindiran, bahkan makian
Hingga pelita pengakuan terlepaskan, berganti dekapan kemarahan)

“Kita dapat berjalan bersama...” pintamu lagi

Kau tawarkan kisah yang bermutu, karena adanya larutan nilai ...
Namun nyaring yang kudengar adalah ‘tukuk tambah, puak keriuhan yang sukar ditelan’,
membuang yang bernafas, berkawin dengan kematian
bertanyakan kepada kebisuan ...
Pelan aku dayung sampanku, mengayun riak air
di atas sampan, mereka membelah lena, tersenyum kepada langit
mungkinkah bau tubuhmu akan menenggelamkan bidukku?
Yang kutahu ... air tetaplah air, pasir tetaplah pasir
tak ada yang menyuburkan sebuah kemauan

Rabu, 28 November 2012

Transmutasi-2




Berbekal setengah ruh, mencoba bangkit berlari
satukan segala tenaga ...
sekali lagi terjatuh, terantuk panas uap jalanan
“Mungkin aku perlu menutup mataku barang satu dua jenak”

Berat hati menuju trotoar peraduan, rebahkan bati-sebati lunglai
di bantal-bantal harap
seribuan kunang mendekat, tak jua mata merapat

Seorang bocah berjingkat
seolah tak lagi kuat, mencekuh sukma pekat
jajarkan dua jari, katupkan di depan mulut
sempoyongan deru mulut berbusa-busa
“Nak, ingatlah Ibu yang tak pernah lelah menitikkan air mata ketika kau tiada di sisinya...”

Darah menyembur di dada
bekas terlewati tajam pisau belati,
darah yang tidak mendapat tempat pergi melewati kerongkongan
keluar dari mulut, meleleh bertemu darah-darah lain
Putih ... semua putih adanya

Sang Bulan mendekat, tersenyum tercekat
rebahkan diri, temani jasad, jasad lemah
tak ada lagi di depan pintu tuk disambut,
tak ada lagi senyuman indah...
menutup jabal jiwa, hanya ruang kosong
sepi, dingin terbujur menghadap kiblat syamali

Solo Mei 2012

Senin, 26 November 2012

Transmutasi




Di kelokan jalan yang dipenuhi nafas kehidupan
diam, merunut gerah hati
sebentar mengusap lelah jiwa, sebentar mengusap keringat asa ...

Desah jerit kucing yang hendak melepas hasrat,
koar segerombolan tikus lapar
menemani resah, meretas harapan liar ...

Keras mencoba memecah traktat di kepala
hingga sejenak terjatuh, sujud di kaki lemah
tak lagi kuat beban tubuh tertahan telapak rapuh, tersimpuh luruh...

Bulan melirik dari balik jasirah cakrawala langit dan berbisik,
“Jasadmu lelah...”
hebat meradang, sakit terbakar kecamuk hati
“Tahu apa kau tentang lelah hahh?!”
sejenak bersanding, melepas gejolak masing-masing
“Kalau kau lihat senyum itu, mungkin kau baru tahu lelah!!”

Aug, 2012

Minggu, 25 November 2012

Bapak, Jangan Paksa Aku Kawin




Rambut sedikit bergelombang, klimis tersisir ke belakang
senyum tak bosan mengambang, di wajah yang selalu tenang
lembut tutur kata terngiang, jauh dari kesan gamang
“Apa yang kurang?”

Pagi, ketika seribu kepala terisi strategi, demi apa yang mereka sebut nasi,
tak pernah kau ciut hati, “cik ... cik ... cik ...”, nyaring detak jantung sebuah alat transportasi
di mana jaman tak kuasa lagi, memamah sepotong besi, berbahan bakar ubi
“Apa yang kurang serasi?”

Tak peduli gurita jaman liar melilitmu, membelenggu tubuhmu sampai terkaku-kaku
tak pernah kau merasa jemu, tuk terus membabar dorongan kalbu
membasuh lesu, menjadi deru yang semakin menggebu
“Apa yang kurang serasi dari semua itu?”

“Subi, Bapak kagum melihat caramu cipta peradaban ...”
“Liat perawan-perawan itu, meski badannya bau tanah sawah.. emmmm luar biasa sedap ...”
“Apa itu, babu-babu semi permanen yang berserakan di pendhapa, di dapur, di halaman belakang ...
“Coba kau jemput satu, jadikan mainan waktu luang ...”

Hilang semua air itu, tak pernah kau toleh ke belakang lagi, kau tutup telinga dengan kedua tanganmu, tak putus-putus kau teriakkan,
“Bapaaak jangan paksa aku kawiiiiin ...!!”

Solo Juni 2012

Jumat, 23 November 2012

Peti Mati Berjalan Seorang Diri




Lemah kidung hujam pekat hitam
di atas bale warna-warni
kotak kecil jadikan riak keberuntungan
ikuti arah angin terlerai

Riang-riang nyanyikan hasrat
meriap membelenggu kaki hati
senyap mendengar tenggelam
berlajur-lajur waktu menuai

Derai lelehan nanar sukma
jelajahi sembilu janji
menghampar, menyangkar, memahat
sombong sekat sekat jeruji

Peti mati berjalan seorang diri...


(Solo, Maret 2012)

Rabu, 21 November 2012

Tapak Kaki di Persimpangan Jalan




Aku masih berdiri di hembusan angan, kala kau mengeja sebuah peristiwa
dari balik kelelapan yang bersemayam, pada samar riak kecil di kaki langit
kelu meski tak pernah mampu membisu, melumut membekap sebuah harapan

Senyummu ramah menyapaku, “Selamat pagi ...”
ah, tak mungkin memarahimu, karena selalu terselip sepotong rindu
tuk menyampaikan niat, hingga tak kusadari tubuh ini pelan menggeliat

Seharian masih terkawal penat, diam di hamparan batas yang hampir tak terlihat
tak hendak bersenandung, menatap awan itu kian menggantung
tak pernah terjamah, pelita jalan menuju rumah

Tapak kaki di persimpangan jalan, dapatkah kau piara hidupku?
Sebab hanya satu, hanya sebuah keinginan ... pelan tanggalkan
rentaka fatwa yang terus berdenyut, membarut nyanyian hati

kusimpan mimpi itu
sejenak mengurai malam yang merisaukan tempat tidurku
kemudian tertawa ke arahku... kala air liur pagi itupun belum terjamah

Solo, Aug 2012

Selasa, 20 November 2012

Titian Sukma




Duduk seorang diri di atas tungku yang panas membara
Aneh! Terasa sejuk semilir menyeruak di sela-sela lobang yang ada di sana
Kurasakan secuil demi secuil kulitku terkelupas nikmat menambah hebat nyala tungku
Bau sangit menerobos  hidung menuju syaraf menyegarkan jiwa
Aku berdiri, mengambil celana untuk mengganti celanaku yang telah menjadi abu
Bersimpuh lagi di atas tungku yang mulai redup menjilat udara
Nyala tungku seketika menggila, mengiring bau sangit lagi, bau penyejuk sukma
Bosan duduk, mengingatkanku terapi ala negeri tetangga jauh
Di mana seorang teman meniti titian nasib di sana
Aku berdiri dengan dua tanganku, tungku ada di antara dua lenganku
Aku dekatkan kepalaku di mulut tungku yang mulai redup lagi
Bagai disiram premium yang semakin susah tuk ditentukan nominalnya itu
Meliuk, menari, membakar segala rambut yang ada di kepalaku
Kulit-kulit kepalaku mengkerut bagai kerupuk yang digoreng di penggorengan yang terlalu panas
Bau sangit yang jauh lebih kuat seketika beterbangan, mengisi ruang-ruang udara
Sebagian memasuki rongga-rongga di dalam ruang kepalaku
Membuat tegak binar mataku, hingga seutas senyum tersungging di mulut terbalikku
Aku bangkit berdiri, siap mengayun langkah meyusuri dinginnya hati ...

Solo, Mei 2012

Minggu, 18 November 2012

Aprokromatik



Pagi menyapa tidur yang telah terlewati
tawa bocah gerakkan hati tuk meniti hari
kaligrafi yekti sumingkiring dur-kamurkan ati
lurus menembus batas tiada tepi

Dewanggawantah memayuhayuning bawana adi
merajut ekspresi, persepsi Illahi sebuah konsepsi
di pagi yang masih terasa menghampiri
nyaman membabar setiap jengkal langkah kaki

Pagi berikut menjemput, melarut wajah cemberut
mekar landheping satuhu, gong lumaku tinabuh
tanhana laku, laku sapa sira sapa ingsun
terbalut dalam satu dimensi ruang dan waktu

Pagi berikut menuntun, tak berbosan terus menuntun
ndilalah karsaning  Allah, beribu kalbu satu menuju
eling kalawan waspada ing wekasanipun

ikhlas menghadap, menghadap panarimaning pandum


Solo, April 2012

Jumat, 16 November 2012

Alokasi Hati


senja, ronakan jejak tertinggal
terhenti pada sebuah jasad
masih terhenti …

dan saat gelap pun meronta
menampar senyum yang mencoba membelai
sesayup wajah terlunta
hingga terjatuh …


jejak masih terasa, enggan terlena
menebar kehangatan
berdiam di pangkuan

namun hanya sedikit waktu
takkan pernah kembali

~ pada sebuah jejak, kubaringkan jasad matiku ~