Saya adalah pelaku pena berasal dari sebuah kota budaya kecil Surakarta Jawa Tengah Indonesia. Tertarik pada sebuah sisi kehidupan dari peradaban ini.
Di samping itu, karena latar belakang pendidikan saya di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta, saya juga terlibat dalam kegiatan menerjemahkan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia dan sebaliknya.
Blog ini adalah salah satu wahana di mana saya menumpahkan segala gagasan dan ketertarikan saya kepada kehidupan ini.
Jika Anda tertarik untuk berinteraksi lebih jauh dengan saya, silakan terlibat dalam kehidupan saya. ( jasa terjemahan online ) di: 0271-5884647 a.n Agus Sulistyo


Tampilkan postingan dengan label Berita Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2013

Tanpa Judul



Seorang ‘filsuf’ pendidikan bersabda:

“Pilihan sekolah itu seperti memilih telepon seluler. Pilih BlackBerry atau Nokia 3110? Tentu ada kualitas ada harga dong ..." “RSBI dirancang untuk mengejar ketertinggalan pendidikan global ... Semua materi pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris, kecuali mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar siswa kelak dapat bersaing di level internasional ...” Wuih!

Kami  hanya tertawa. Kali ini benar-benar tertawa.

 Dan kami tidak bilang “Modar ... !” ketika kami mendengar sekolah mahal ‘milik kami’ itu difatwa ‘haram’ oleh MK. Karena mereka terlalu pintar berkelit di balik sebuah istilah. Banyak jalan menuju ke muara yang sama. Kelas terunggul, kelas terpadu, kelas terseksi, kelas terbahenol, dan kelas-kelas yang lain yang semakin mengukuhkan kelas kami sendiri ..., kelas terkere... hehehe (tapi jiwa kami sama sekali tidak kere!). Jangankan untuk memilih ‘Nokia 3110’, uang saku saja kadang hanya restu harapan kebaikan dari orangtua.

“Kekuatan yang kami miliki adalah doa dan sikap penyerahan diri sepenuhnya ... “
“Namun, belajar kami tetap. Tetap semangat!”

Jayalah Indonesia di masa yang akan datang.

Senin, 31 Desember 2012

Perempuan Sekat Hidup




Pagi pelan beringsut. Sinarnya merangkak di sekat sebuah bilik. Pelan ... tak sepelan hasrat perempuan empat puluhan tahun itu untuk meninggalkan tangis hatinya. Dengan segenggam harap di telapak tangan. Sekenanya dia rapikan tubuhnya. Sesaat dia hembuskan nafasnya untuk memuntahkan rasa salah di sudut hatinya. Sebelum sekat-sekat itu menyaksikan bayang tubuh lemahnya meninggalkan ruang itu. Meninggalkan seorang laki-laki yang menjadi bagian cerita salah satu malamnya. Laki-laki yang masih terlena. Bergulat mengembalikan tenaga yang dia pakai untuk mengabulkan hasratnya ...

“Terima kasih ya Mas ...” katamu pelan kepadaku. Aku tersenyum. Mataku enggan beralih dari dua bocah itu. Tertawa lepas. Tawa yang menari di sela-sela percik air. Butir-butir air yang melayang ke udara terantuk telapak-telapak mungil itu. “Ayo Le ... sudah mandinya, masuk angin nanti. Pakai baju terus nanti jalan-jalan liat kembang api ya Nak ...” Mata kedua bocah itu begitu berbinar. Menyorotkan rasa hati mereka. “Horeeee nanti liat kembang api ... kembang api!” Aku ambil nafasku, aku hentakkan kuat-kuat. Terbayar sudah ketidakmampuanku membuang tangis kedua bocah itu semalaman. Kedua bocah yang tidak sempat tuntaskan mimpinya. Menyayatkan rintihan di atas bantal. Tangis kehilangan kehangatan di pekat dingin malam. Di antara deras hujan. Menanti sang ibu kembali. Kembali dari mempertaruhkan jiwanya untuk kedua buah nafasnya.

“Maafkan aku ya Mas, selalu rmerepotkanmu ...” Dan selalu saja aku hanya tersenyum. Senyum getir menertawakan kebodohanku. Ketidakmengertianku terhadap sketsa hidup yang ada di hadapanku. Aku hanya bisa memelihara rasa ini di salah satu ruang batinku. Selalu terhenti pada sebuah keinginan. Dan aku selalu datang terlambat. Datang di saat tangis-tangis itu telah pecah. “Pak, nanti ikut liat kembang api ya ...” suara anak ragilku membuyarkan anyaman di kepalaku.

“Mas, aku titip anak-anakku sebentar ya ...” Aku hanya ternganga. Seperti biasa, sorot mataku tak pernah mampu hentikan langkahmu. “Hanya sebentar kok Mas, aku sudah janji sama anak-anak ...” gema suaramu hilang ditelan deru motor yang membawa tubuhmu. Terbawa serta sepotong harapan kedua anakmu.

Malam begitu cepat merayap. Membelit sebuah penantian. Secepat kilat aku datangi kedua bocah itu. Kali inipun aku terlambat! Kedua bocah itu telah melukiskan kesendiriannya di atas bantal itu. Aku dekap erat. Aku tampar kedua pipiku untuk mengusir kelemahanku. “Kita lihat kembang api ... Kita bersama melihat kembang api itu ...”

Aku sendiri ... ketiga anakku sendiri ... kedua bocah amanah itu sendiri .... Artinya kini tidak ada yang sendiri. Aku tersenyum, semakin lebar ... hingga membahanakan tawaku. Bersanding dengan tawa kelima anak manusia itu! “Tetetet ... teeeeet ...  teeeeet .... selamat tahun baru kelima anakku!” Tawa kami pecah. Berhamburan ke udara. Berkumpul dengan tawa-tawa lain. Tawa pijakan untuk tetap menjaga keinginan baik. Keinginan baik untuk menyongsong pintu hari baru. Langit yang biasanya muram. Ikut terkekeh-kekeh. Geli digelitik si kembang api.

Selasa, 18 Desember 2012

Maaf, ... Kita Sama-sama Tersesat




“Di jaman ini, masih mengharap keperawanan? Haiyah!!” Meski diungkapkan setengah guyonan, nelangsa mendengarnya. Jaman memang telah sedemikian dahsyat kemajuannya, sehingga cenderung lebih meletakkan kepentingan-kepentingan praktis daripada memikirkan ribetnya tetek bengek yang sekiranya bisa dipangkas. Dipangkas meski dengan kompensasi pengingkaran nurani. Salah satunya adalah masalah rusaknya selaput pada alat vital perempuan yang disebabkan benturan benda tumpul tadi. Rusak sebelum dirusak oleh yang berhak merusak, kelak. Seolah menjadi sangat ‘ganjil’, jika dalam usia tertentu masih saja bertahan perawan, sehingga sangat pantas ditertawakan. Sekaligus sebagai sebuah ‘legitimasi’ tindakan rusak-merusak sebelum waktunya. Duh!

Di belahan bumi lain, mungkin perawan tidak perawan bukan masalah yang dianggap serius. Tunggang-menunggang antara laki-laki dan perempuan tanpa balutan legalisasi relijius bukan merupakan sebuah perkara yang membebani hati. Tapi, Sang Khalik mempunyai parameter sendiri untuk menguji kualitas ketakwaan umatnya. Hingga semua menjadi ‘terhubung’, saling melengkapi untuk mencari tahu kuatnya kesungguhan kita dalam menjalani peran keimanan masing-masing di peradaban yang sangat majemuk ini. Hal yang wajar di sana, mungkin tidak wajar di sini, dan sebaliknya, hal yang wajar di sini, mungkin adalah godaan di sana. Itulah seninya Tuhan dalam mengevaluasi, kemudian menentukan prestasi kumulatif pelajaran hidup umatnya!

Matanya bening, sebening namanya, Bunga. Perempuan belasan tahun itu, usianya masih menyandang predikat sebagai pelajar. Meski secara de jure, kini sudah tidak ada lagi selembar dokumenpun yang menyatakan dia sebagai pelajar. Lahir dan berkembang di sebuah daerah pegunungan jauh dari hingar bingar ‘gebyar kehidupan’. Secara ‘geografis’ tempat tumbuh kembangnya seharusnya lebih dekat dengan tempaan norma-norma tatanan hidup. Hingga diharapkan lebih peka dalam mencecap kebaikan dan meludahkan ketidakbaikan.

Sebenarnya otaknya cukup encer dalam usahanya memahami cara bertahan hidup pada era ‘persaingan global’ ini. Apa lacur, waktu yang seharusnya digunakan untuk mengisi kepala dan hati dengan bekal untuk masa hidupnya kelak, disikapinya dengan picik. Diawali dengan wiraswasta tubuh sendiri, lalu berkembang dengan membentuk ‘badan usaha’ dengan memajang ‘etalase syahwat’. Lima anak ingusan masuk dalam jaringan usahanya. Selain sebagai pelaku, kini Bunga juga merangkap sebagai vendor layanan pemuas hasrat itu. Dia perkenalkan teman-teman anggota jaringannya kepada para lelaki hidung belang. Entah sengaja mempersiapkan diri dari jerat hukum dengan memutus mata rantai pada proses ‘mengenalkan’, atau gagasan itu baru muncul ketika jerat itu telah membelenggunya. Yang jelas dia mati-matian menolak dituduh ‘menjual’, serta bersikukuh hanya ‘mengenalkan’. Dan jika hubungan berlanjut dengan main kuda-kudaan, itu urusan alat kelamin masing-masing ... lumayan pinter yah?

Luar biasa hebat jaman ini. Memungkinkan Bunga untuk menerapkan ‘manajemen bisnis’ dengan media komunikasi dan strategi pemasaran yang jitu. Yang membuat menganga mulut para penjual keliling yang mempertaruhkan seluruh isi perutnya untuk berjalan dari rumah ke rumah menawarkan dagangannya. Bisa dibayangkan jika Bunga masih menerapkan strategi konvensional. Tentu tubuh mulusnya akan tercabik-cabik oleh cakar ibu-ibu yang anak perjakanya menjadi konsumennya. Atau bisa jadi rusak wajah cantiknya disiram air keras oleh para istri yang suaminya asyik beresek-esek muncrat dengannya. Di tanah kelahirannya, hampir seluruh orang se-kecamatan saling mengenal satu dengan lainnya!

Dan lembaga tempat dia menuntut ilmu? Sigap menyatakan Bunga adalah ‘oknum’ sebelum menjatuhkan fatwa haram bagi Bunga untuk diakui sebagai peserta didiknya. “Kami adalah sebuah wadah yang sedikit banyak turut membentuk karakter anak-anak kami. Dengan kelalaian ini, kami meminta maaf dan ke depannya kami berjanji untuk lebih memperhatikan anak-anak kami ...” Itu adalah oase penyejuk yang masih sebatas angan, meski sekedar diucapkan.

Seluruh sendi kehidupanpun, seolah adalah sebuah koridor menuju satu dimensi ruang. Kenikmatan! Begitu mudah kita mentahbiskan kata ‘oknum’ jika ada borok moral yang terungkap. Tanpa sediikitpun usaha menyisipkan niat untuk sekedar menengok wadah yang  telah membentuk ‘oknum’ itu. Di seluruh sendi kehidupan!!

Maaf kita sama-sama tersesat ...

Sabtu, 15 Desember 2012

Perempuanku, Aku Beli Kemaluanmu ...



 
Sepasang payudara yang belum tuntas menyembul dari balik seragam sekolah. Setangkup bibir yang masih hangat meninggalkan jejak kala selesai menghapal pelajaran sejarah. Dua bola mata berbinar kala tangan menggenggam uang jajan beberapa rupiah. Itu adalah kalkulasi-kalkulasi bromocorah syahwat. Penabuh genderang tarian nafsu yang bersemayam di balik kuasanya.
“Ndhuk, boleh aku bicara kepadamu? Apakah aku bisa memilikimu dengan apa yang akan kutawarkan kepadamu?” “Eit, tidak usah buru-buru dijawab”. “Aku hanya ingin kau sedikit mikir, butuh berapa tahun kamu sekolah untuk dapat memiliki apa yang sekarang ini bisa kau miliki? Butuh berapa lama lagi kau harus membanting kesabaranmu hanya untuk dapat memiliki apa yang detik ini juga dapat kau miliki? Sampai terkencing-kencing mustahil dapat kau wujudkan Ndhuk ... hehehe ... tolong di sela-sela saat kau isi PR matematikamu, kau pikirkan hal ini juga ...”
Dua mata itu, kini menyulam sebuah kebimbangan. Ketidakmengertian. Dua payudara itu, kini berguncang tak keruan menahan detak jantung merencam. Mengiring sebuah nyanyian yang melenakan sepasang pendengaran. Hingga sempena menjelang di pintu hari. Tak ada tujuan yang sanggup berbicara. Sayup terdengar bisik indah di tengah malam, “Kêlèk-kêlèk biyung sirå ånå ngêndi ... énggal tulungånå, anakmu kêcêmplung warih ...” Bulan tersenyum, merasa tunai sudah temani anak perawan itu pulang ke sarangnya. Tempat perlindungannya. Bapa biyungnya!
“Itu adalah berkah Sang Hyang Widhi atas jalanmu Ndhuk!” Mata sang biyung membelalak hebat mendengar derai celoteh anak perawannya. Benaknya saat itu laksana mesin pencetak berkecepatan 34 ppm dokumen monokrom. Dokumen berisi rencana-rencana anggaran hasil pengorbanan anaknya kelak. Sejurus kemudian suaranya tercekat. Kakinya diinjak sang bapa. Dengan kerling setengah “melotot”, dia tahan ‘kegirangan’ sang belahan hati. “Ndhuk, semua itu terserah kepadamu ...” katanya “bijak”. “Bapak dan ibumu hanya bisa merestui  kehendakmu ...”
Rembulan beringsut di balik kabut. Menangis, dan hanya bisa terbaring pada rumpang-rumpang malam. “Setan alas, akhirnya kegelapan berpulang pada kegelapan!” makinya. “Sampai ke mana guratan pandang ini?” “Sampai berapa lama setelah selaput dara itu terkoyak?” Sang rembulan pun terdiam, menunggu di selaput bumi ...

Sabtu, 01 Desember 2012

Hari-hari Besar




Bulan Januari
01 Januari – Tahun Baru Masehi
01 Januari – Hari Perdamaian Dunia
05 Januari – HUT Korps Wanita Angkatan Laut
10 Januari – Hari Tritura
10 Januari – Hari Lingkungan Hidup Indonesia
15 Januari – Hari Peristiwa Laut atau Samudera
25 Januari – Hari Gizi dan Makanan
25 Januari – Hari Kusta Internasional

Bulan Februari
02 Februari – Hari Lahan Basah Sedunia (konvensi Ramsar)
05 Februari – Hari Kapal Tujuh
09 Februari – Hari Pers Nasional
09 Februari – Hari Kavalen
13 Februari – Hari Farmasi
14 Februari – Hari Pembantu Rumah Tangga
22 Februari – Hari Istiqlal
28 Februari – Hari Gizi Nasional

Bulan Maret
01 Maret – Hari Kehakiman Indonesia
01 Maret – Hari Peringatan Serangan Umum di Yogyakarta
06 Maret – Hari Kostrad
06 Maret – Hari Konvensi CITES (perdagangan satwa liar)
08 Maret – Hari Wanita Internasional
09 Maret – Hari Wanita Indonesia
09 Maret – Hari Musik Nasional
10 Maret – Hut PARFI
11 Maret – Hari Surat Perintah 11 Maret (Supersemar)
18 Maret – Hari Arsitektur Indonesia
20 Maret – Hari Kehutanan Dunia
22 Maret – Hari Air Internasional
23 Maret – Hari Metereologi Sedunia
24 Maret – Hari Peringatan Bandung Lautan Api
29 Maret – Hari Filateli Indonesia
30 Maret – Hari Film Indonesia


Bulan April
01 April – HUT Bank Dunia
06 April – Hari Nelayan Indonesia
07 April – Hari Kesehatan Indonesia
09 April – Hari Penerbangan Nasional
09 April – Hari TNI Angkatan Udara
13 April – Hari Lima Puluh Kota
15 April – Hari Zeni
16 April – Hari Kopassus
18 April – Hari KAA
19 April – Hari HANSIP
21 April – Hari Kartini
22 April – Hari Bumi / Earth Day / KTT Bumi
24 April – Hari Angkutan Nasional
27 April – Hari Lembaga Pemasyarakatan Indonesia

Bulan Mei
01 Mei – Hari Buruh Internasional
01 Mei – Hari Peringatan Pernbebasan Irian Barat
02 Mei – Hari Pendidikan Nasional
03 Mei – Hari Surya
04 Mei – Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia
05 Mei – Hari Lembaga Sosial Desa
08 Mei – Hari Palang Merah Internasional
11 Mei – Hari POM TNI
17 Mei – Hari Buku Nasional
20 Mei – Hari Kebangkitan Nasional
21 Mei – Hari Peringatan Reformasi
31 Mei – Hari anti tembakau Internasional

Bulan Juni
01 Juni – Hari Lahirnya Pancasila
01 Juni _ Hari Anak Internasional
03 Juni – Hari Pasar & Modal Indonesia
05 Juni – Hari Lingkungan Hidup Sedunia
17 Juni – Hari Dermaga
21 Juni – Hari Krida Pertanian
22 Juni – HUT Kota Jakarta
23 Juni – Hari Konvensi Bonn
24 Juni – Hari Bidan Indonesia
26 Juni – Hari Anti Narkoba seDunia
29 Juni – Hari keluarga Nasional




Bulan Juli
01 Juli – Hari Bhayangkara
01 Juli – Hari Anak-anak Indonesia
05 Juli – Hari Bank Indonesia
09 Juli – Hari Peluncuran Satelit Palapa
12 Juli – Hari Koperasi Indonesia
22 Juli – Hari Kejaksaan
22 Juli – Hari uLtah Mama
23 Juli – Hari Anak Nasional
23 Juli – Hari KNPI
29 Juli – Hari Bhakti TNI Angkatan Udara
31 Juli – Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia

Bulan Agustus
05 Agustus – Hari Dharma Wanita Indonesia
08 Agustus – Hari ASEAN
10 Agustus – Hari Veteran Nasional
13 Agustus – Hari Peringatan Pangkalan Brandan Lautan Api
14 Agustus – Hari Pramuka
17 Agustus – Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
18 Agustus – Hari Konstitusi Indonesia
19 Agustus – Hari Departemen Luar Negeri
21 Agustus – Hari Maritim Nasional
24 Agustus – HUT TVRI
30 Agustus – Hari Orang Hilang seDunia

Bulan September
01 September – Hari POLWAN
04 September – Hari Pelanggan Nasional (mulai 2003)
07 September – Hari Palang Merah Indonesia
08 September – Hari Aksara
08 September – Hari Pamong Praja
09 September – Hari Olahraga Nasional
11 September – Hari Radio Republik Indonesia
17 September – Hari Perhubungan Nasional
21 September – Hari Damai Internasional
24 September – Hari Agraria Nasional / Hari Tani
26 September – hari Statistik
27 September – Hari ParPostel
28 September – Hari Kereta Api
29 September – Hari Sarjana
30 September – Hari Pemberontakan PKI


Bulan Oktober
01 Oktober – Hari Kesaktian Pancasila
02 Oktober – Hari Batik
02 Oktober – Susu Nasional
05 Oktober – HUT Tentara Nasional Indonesia
09 Oktober – Hari Surat Menyurat Internasional
10 Oktober – Hari Kesehatan Jiwa
14 Oktober – Hari Pangan Sedunia
15 Oktober – Hari Hak Asasi Binatang
16 Oktober – Hari Parlemen RI
24 Oktober – Hari ultah Abah
24 Oktober – HUT PBB
24 Oktober – Hari Dokter Indonesia
27 Oktober – Hari Penerbangan Nasional
27 Oktober – Hari Listrik Nasional
27 Oktober – Hari Blogger Nasional
28 Oktober – Hari Sumpah Pemuda
29 Oktober – Hari KORPRI
30 Oktober – Hari Keuangan

Bulan November
03 November – Hari Kerohanian
06 November – Hari Lahir Bridge Pelajar Islam Indonesia
10 November – Hari Pahlawan
12 November – Hari Kesehatan Nasional
14 November – Hari BRIMOB
14 November – Hari Diabetes Sedunia
16 November – Hari Konferensi Warisan Dunia
21 November – Hari Pohon
25 November – Hari Guru / HUT PGRI

Bulan Desember
01 Desember – Hari AIDS sedunia
01 Desember – Hari Artileri
02 Desember – Hari Konvensi Ikan Paus
03 Desember – Hari Penderita Cacat
09 Desember – Hari Armada RI
09 Desember – Hari Anti korupsi
10 Desember – Hari HAM
12 Desember – Hari Transmigrasi
15 Desember – Hari Infantri
15 Desember – Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional
19 Desember – HUT Tentara Nasional Indonesia
19 Desember -  Hari Bela Negara
20 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Ibu
22 Desember – Hari Sosial
22 Desember – Hari Korps Wanita Angkatan Darat
25 Desember – Hari Natal
26 Desember – Hari Bencana Nasional
29 Desember – Hari Keanekaragaman Hayati